Isuzu Surabaya

Jl. Raya Waru Km. 15, Sidoarjo – Surabaya, Jawa Timur

Menu

Rumus Sukses Dari CEO Asuransi Astra

Minggu, Januari 24th 2016.


Kehidupan ini sangat indah. Tak seluruh perjalanan hidup manusia berjalan dengan mulus. Tentu banyak rintangan dan hambatan dalam meraihnya. Kuncinya adalah kesabaran, keteguhan hati, memiliki prinsip yg kuat, jujur, apa adanya, dan terus melakukan inovasi. Di balik kesuksesan seseorang, ada kisah-kisah mengharukan dan menyedihkan. Semua itu adalah proses yg harus dilalui. Mulai hari ini, Kompas.com menurunkan serial artikel “Success Story” tentang perjalanan tokoh yg inspiratif. Semoga pembaca dapat memetik makna di balik kisah.

Jakarta, KompasOtomotif – Jika sukses adalah karunia, maka proses memperolehnya yaitu usaha pembentukan diri sampai layak mendapatkan. Di setiap kisah sukses seseorang pasti ada jalan cerita yg mampu jadi bahan pelajaran, menginspirasi, atau setidaknya bisa menggerakan hati orang yang lain mengejar sukses.

Melalu cerita Santosa, Sarjana Fisika lulusan Universitas Gajah Mada pada 1989 yg kini menjabat CEO PT Asuransi Astra Buana (AAB) sejak April 2014, definisi sukses asalnya bukan kata orang tetapi kembali ke diri sendiri.

Santosa telah beberapa kali ditugaskan mengawal perusahaan yg dikenal dengan cabang bisnis asuransi kendaraan bermotor, Garda Oto. Sebelumnya ia pernah memegang peran sebagai Chief Financial Officer AAB, periode Mei 2005 hingga Mei 2007.

“Saya bilang sukses atau keberhasilan itu relatif, apa yg dikejar seseorang? Tapi kalau untuk aku yg paling utama adalah tiga hal, pertama kemauan, kami maunya apa dulu, kalau kami telah tahu maunya apa maka yg kedua adalah kemampuan buat mencapai kemauan. Ketiga itu kesempatan,” kata Santosa ketika berbincang dengan KompasOtomotif, Kamis (10/12/2015).

Ketiga hal itu harus bertemu di sesuatu titik, lanjut Santosa. Bila salah satunya absen maka tak mulai berhasil.

“Maunya jadi apa dulu? Kalau misalnya mau jadi pengusaha tetapi kerja di Astra ya tak mungkin karena pasti jadi karyawan. Kalau mau jadi professional di Astra pasti milik kesempatan, tinggal maunya jadi profesional seperti apa,” ujar Santosa.  

Gonta-ganti perusahaan

Sepanjang 27 tahun karir prosfesionalnya, Santosa habiskan mengabdi pada grup Astra International. Ia telah “kenyang” menerima tantangan, tercatat telah 13 kali ia keluar masuk pintu dua anak perusahaan Astra International.

Lulus  kuliah dengan modal S1 ilmu dan teori Fisika, karir Santosa di Astra International dimulai pada 1989 sebagai “tukang komputer” atau jabatan resminya Software Instructor di PT Astra Graphia (1989 – 1991). Tugasnya menolong konsumen yg mengalami kesulitan mengoperasikan komputer, pada era itu komputer jadi barang teknologi tinggi yg tak dapat dimengerti seluruh orang.

“Sebenarnya kan nggak jauh, orang fisika diajarkan komputer kemudian belajar macam komputer. Kalau ngajarin orang bisalah, kalau fisika kan biasa ngajar juga,” ujar Santosa yg kemudian diangkat menjadi Technology Marketing Specialist diperusahaan yg sama (1991 – 1993).

Santosa beralih sebagai Consulting Resource di PT Digital Astra Nusantara (1993 – 1995). Perusahaan ini hasil kolaborasi Astra Graphia dengan produsen komputer kedua terbesar di dunia ketika itu, Digital Equipment Corporation.

“Kenapa aku mampu pindah ke sana? Ya karena ada kesempatan. Astra buka divisi infrastruktur dengan fokus telekomunikasi. Komputer dengan telekomunikasi kan dekat, karena aku spesialisasinya network jadi dengan komunikasi kan dekat. Tapi tetap mesti belajar karena bagaimanapun beda, kalau tak beradaptasi ya tak mungkin jalan,” katanya.

Berlanjut, ia dipercaya sebagai Business Development Manager di PT Astratel Nusantara (1995 – 1996). Anak perusahaan Astra International ini fokus pada pengelolaan infrastruktur.

Mulai tahu banyak soal bisnis telekomunikasi, Santosa kembali dipindahtugaskan sebagai Head of Corporate Support & Planning di PT Pramindo Ikat Nusantara (1996 – 1999). Perusahaan ini fokus pada penyelenggaraan kerja sama operasional dengan PT Telkom Indonesia, namun sempat terkendala karena krisis dalam negeri pada 1998.

“Namanya planning kan tak hanya teknologi, ada persoalan cost kemudian profitnya berapa. Awalnya kan hanya ngerti pendapatan dikurangi cost sama dengan profit. Tapi belajar ke sana berarti telah akan tahu income statement, nah kan ini telah geser,” ujar Santosa.

Santosa sempat kembali ke PT Astratel Nusantara (2000 – 2001), tetapi kali ini menjabat General Manager Corporate Finance & Planning.

Setelah itu ia ditunjuk mengawal PT Astra CMG Life (2001 – 2003) sebagai Director Sales & Marketing. Perusahaan ini masih tertatih selepas krisis 1998 dan diputuskan melakukan divestasi namun tak jadi. Santosa bertugas menjaga stabilisasi sampai perusahaan mendapat pemimpin baru.

Setelah dapat, Santosa diarahkan menjadi Director/Chief Financial Officer di PT Astra Graphia (2003 – 2005). “Saya ditarik kemudian diganti. Kebetulan ada eksekutif yg resign jadi aku ditempatkan lagi di Astra Graphia, itu juga kebetulan. Balik lagi terus ada faktor keberuntungan,” kata Santosa.

Pernah suatu ketika mantan Presiden Direktur Astra International (2005 – 2010), almarhum Michael Dharmawan Ruslim, kaget begitu melihat profil karir Santosa. “Saya kan bergaul dengan orang keuangan telah lama dalam dua tahun terakhir. Di bayangan beliau aku itu accounting atau ekonomi, begitu CV masuk ke bursa ditanya ‘lho kamu ga milik latar belakang asuransi? Lah ini kan direktur keuangan’. Tapi kan telah terlanjur, ya mesti belajar,” cerita Santosa sambil tertawa mengenangnya.

Prestasi Santosa selama beberapa tahun di PT Astra Graphia tak jelek. Ia mengaku bersih dan lolos proses audit. Modal itu membawanya menjabat Director/Chief Financial Officer di PT Asuransi Astra Buana (2005 – 2007).  

Pada 2007 Santosa menyampaikan Michael Dharmawan Ruslim kembali meregenerasi struktur Astra International. Ia diminta menolong di PT Astra Agro Lestari sebagai Director/Chief Financial Officer (2007 – 2013) sekaligus menjadi Anggota Komite Investasi Yayasan Dana Pensiun Astra I & II (2007 – sekarang).

Mulai 2008 Santosa juga berperan menjadi Anggota Komite Investasi PT Asuransi Astra Buana hingga sekarang. Lantas pada April 2013 ia menjabat Wakil Presiden Direktur di perusahaan itu, kemudian pada April 2014 ditugaskan menjadi CEO.

Terus bergeser

Jabatan dan perusahaan tempat Santosa bekerja terus berganti, namun itu bukan jadi halangan melainkan dianggap tantangan. Dari pergeseran itu malah Santosa merasa bisa banyak ilmu dan pengalaman.

“Kelihatannya kan dari awal sampai ujung seolah-olah jauh, tetapi dalam perjalanan waktu kan kalian harus beradaptasi, kalau mampu penugasan mau atau tidak? Kalau aku tak mau ya tak mungkin dapat tetapi kalau telah mau harus mengasah kemampuan. Kalau telah mau mesti mampu, kalau nggak bisa pasti gugur,” kata Santosa.

Satu hal yg tak boleh dilupakan merupakan kesempatan. Faktor inilah yg mampu diberikan perusahaan dan terkadang tak dapat diprediksi. Sementara beberapa faktor lain, kemauan dan kemampuan diasah selama bekerja menjadi paket survive ability.

“Belok itu tak harus ekstrem. Dari pengalaman aku terus menunjukan bergeser sedikit demi sedikit, kalau tidak jarang berganti dan tak berhubungan itu juga tak ada nilai tambahnya. Tapi kalau gesernya terstruktur, wawasan jadi lebih luas dan lebar, kesempatannya lebih besar. Kalau kemauan dan kemampuan kalian lebih besar maka peluangnya otomatis lebih besar,” ujar Santosa.

Sumber: http://otomotif.kompas.com

Mobil Terbaru

Related Article Rumus Sukses Dari CEO Asuransi Astra

Kamis 28 April 2016 | Berita Otomotif

PT. Suzuki Indomobil Sales (SIS) kembali meresmikan outlet Suzuki Roda Empat dengan fasilitas 3S (Sales, Service, Spareparts) terkini yg ke-300 secara nasional, Nusa Sarana Citra…

Senin 7 Maret 2016 | Berita Otomotif

Barcelona, KompasOtomotif – Juara dunia F1 tiga kali, Lewis Hamilton mengekspresikan perasaannya lewat akun Instagram pribadi tentang desain pelindung kepala yg digunakan Ferrari ketika tes…

Senin 21 Desember 2015 | Berita Otomotif

Bertarung melawan drifter Indonesia, juara Achilles Asian Drifting Grand Prix 2015 Brandon Greaves tak mengangap enteng. Brandon menilai drifter Indonesia memiliki talenta dan semangat bertarung…