Isuzu Surabaya

Jl. Raya Waru Km. 15, Sidoarjo – Surabaya, Jawa Timur

Menu

Perkenalkan, “The Iron Lady” Widyawati Dari Toyota Indonesia

Sabtu, April 23rd 2016.

Jakarta, KompasOtomotif – Julukan wanita bermental baja (the iron lady) kerap melekat pada dirinya setelah berkarir lebih dari beberapa dekade di PT Toyota Astra Motor (TAM). Bekerja di perusahaan multi-nasional dengan prinsipal asing, kerap menuntut seseorang bekerja di atas 100 persen dari kemampuannya.

Adalah Widyawati, Deputy Director Customer First, salah seorang wanita yg milik karir menjanjikan di Toyota. Sosoknya yg murah senyum dan cepat akrab dengan para pewarta membuatnya gampang dikenali orang. Perjuangan hidupnya seolah mencerminkan semangat Kartini yg tak pernah mau menyerah pada kondisi yg membelenggu.

Ibu sesuatu anak ini mengaku tak pernah mengejar karir selama bekerja di Toyota. Satu-satunya kata-kata filosofis yg kerap dipegang selama bekerja diperoleh dari kedua orang tuanya.

“Orang tua saya terus bilang, kalau bekerja itu yg perlu dikerjakan cuma memberikan hasil sebaik-baiknya. Jangan pernah mengejar karir, karena itu rezeki. Rezeki yg kasih Tuhan dan belum tentu posisi tinggi itu membuat kalian lebih bahagia,” ucap Mbak Wied, begitu ia akrab disapa, ketika berbincang santai dengan KompasOtomotif, Jumat (22/4/2016).

Wanita berdarah Salatiga, Jawa Tengah ini, yaitu bungsu dari empat bersaudara. Usia anak-anak hingga remaja dihabiskan di kampung halaman. Setelah lulus dari SMA, Widyawati kemudian terdaftar sebagai salah sesuatu peserta Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) di Institut Pertanian Bogor (IPB). Melanjutkan jenjang pendidikan di jurusan Teknik Industri Pertanian dan lulus Juli 1993.

Hanya berselang dua bulan, Widyawati remaja memulai karirnya bergabung dengan TAM pada September 1993. Sejak ketika itu juga, ia memperlihatkan sinarnya di dalam perusahaan otomotif terbesar di Indonesia itu.  

Jabatan manajer berhasil diperolehnya pada 1999. Pada ketika itu juga, Widyawati tengah melanjutkan jenjang pendidikannya di dunia bisnis dengan mengambil S2 di Prasetiya Mulya jurusan International Bussiness and Manajement (1998-2000) dan berhasil menjadi lulusan terbaik dalam sesuatu angkatan.

“Waktu lulus dari IPB nilainya biasa-biasa saja, IPK-nya Cuma 3,06. Tetapi  waktu di Prasetiya Mulya mampu predikat lulusan terbaik, dengan IPK 3,89. Aku sengaja mengambil jurusan International Bussiness bagi menopang pekerjaan saya di TAM, melengkapi background yg saya belum milik di pendidikan saya sebelumnya,” ucap Widyawati.

Keluarga Jadi Prioritas

Menjadi seorang wakil direktur di perusahaan besar bukan pekerjaan yg mudah. Waktu mampu terasa sangat singkat dalam sehari. Jadwal meeting yg ketat dan tanggung jawab yg besar kerap menyita waktu, sehingga kualitas bersama keluarga jadi berkurang. Tetapi, alasan itu tak berlaku untuk Widyawati yg masih menyempatkan diri menjabat sebagai “Class Mom” di kelas SMP putra keakungannya, Farrel.

“Jadi kalau ada acara, tugasnya Class Mom itu menghimpun para ibu-ibu dari anak-anak sesuatu kelas itu bagi ikut berpartisipasi. Setiap hari, Farrel itu pulang sekolah jam 16.30. Setiap pukul 17.00, saya pasti terus menelepon anakku, buat bicara, apa saja dibahas dalam obrolan santai,” ucap wanita berusia 46 tahun ini.

 

IST Widyawati tetap menjaga keluarga sebagai prioritas utama.

Wanita kelahiran Salatiga, 8 Mei 1969 ini, juga tak pernah kekurangan waktu bagi menolong putranya dalam mata pelajaran di sekolah. Setiap ada permasalahan pelajaran yg dihadapi anak, Widyawati bersiap memberikan penjelasan. Bahkan, efektivitas pengajaran dianggap lebih cocok oleh sang anak, ketimbang ikut les tambahan atau memanggil guru pirvat ke rumah.

 Salah sesuatu cara buat menjaga hubungan berkualitas dengan anak, kata Widyawati, adalah dengan menjaga perasaan hati. Pastikan suasana hati terus menyenangkan seandainya sedang menghabiskan waktu bersama anak, dengan demikian, hubungan baik mampu tetap terbina.

“Aku terus menjaga suasana hati itu senang saat berjumpa dengan anak, sehingga tak gampang marah. Sebelum tidur, kita biasanya milik waktu berdua buat sesi curhat. Untungnya anakku itu sangat terbuka dan menganggap saya sebagai sehabatnya, jadi semuanya diceritakan. Aku juga suka cerita soal keseharian di kantor sama anak, jadi saling berbagi,” kata Widyawati.

Ujian Berat

Dalam hidup, setiap manusia terus mendapat ujian terberat dalam perjalanannya, tidak terkecuali Widyawati. Berita buruk ini tiba saat wanita bertubuh mungil ini merasakan ada perubahan pada tubuhnya. Pada 2014, vonis dokter kemudian memastikan kalau Widyawati mengidap kanker payudara dengan status stadium 2-B.

“Ketika tervonis, saya kaget. Tetapi tak sampai menangis. Memang di keluarga ada riwayat, jadi penyakit ini ada karena faktor keturunan. Salah sesuatu yg sempat bikin shock itu, adalah dokter di sini (Indonesia). Stigma kalau kanker itu tak mampu disembuhkan membuat suasana sakit ini jadi negatif, makannya saya pindah ke Singapura,” ucap Widyawati.

Salah sesuatu faktor penting untuk seorang pasien kanker bagi mampu bertahan dan sembuh adalah suasana hati yg positif. Dengan alasan ini juga, saat Widyawati yg kala itu telah menjabat sebagai General Manager, melapor kepada atasannya dan mendapatkan kesenjangan buat waktu penyembuhan.

“Tetapi, apa yg saya minta kepada atasanku waktu itu, bukan cuti atau libur, tapi tambahan pekerjaan. Supaya tak kepikiran selalu dan terstimulus buat tetap positif lewat pekerjaan,” ucap Widyawati.

Sebagai tahap awal, Widyawati kemudian memilih pengobatan herbal dan berhasil mendapatkan kalau sel kanker yg ada pada tubuhnya berhenti tumbuh. Tetapi, buat menghilangkan sel kanker dari tubuh manusia, butuh pengobatan medis.

Guna menghindari budaya negatif soal kanker yg telah dialami Widyawati selama berobat di Indonesia. Serta, dengan dukungan perusahaan, maka proses penyembuhan lanjutan dikerjakan di Singapura. Negara ini dipilih karena para dokter sangat menjaga suasana hati pasiennya, terutama penyakin kanker.

“Mereka mampu membuat kalian tenang. Buktinya, dalam 12 fase tahapan kemo (chemotherapy) di awal, dokter sengaja tak menyampaikan kalau itu yaitu bagian yg berat. Karena saya anggap biasa-biasa saja, saya menjalaninya biasa saja. Bahkan sempat sempat ikut konferensi seluruh di Bangkok. Memang sempat ada mual-mual sedikit, tapi masih dapat diatasi,” ucap Widyawati.

Widyawati juga sengaja terus sendiri saat harus melakukan perawatan di Singapura, tanpa ditemani siapapun, anak atau keluarga. Semua ini dikerjakan supaya tak mendapatkan kesan istimewa, penyakit ini berbahaya, atau semacamnya. Lewat perilaku ini, suasana positif dalam hati dapat tetap terjaga dan proses penyembuhan masih dilaluinya.

Terbukti, sel kanker yg ada dalam tubuhnya kini telah berhasil diangkat dan tak tersisa lagi. Kini, Widyawati tinggal menjalani dua kali proses penyembuhan lanjutan, sampai akhirnya mampu mendapat status sembuh total dari salah sesuatu penyakit yg mematikan itu.

“Juni nanti menjadi perawatan terakhir aku di Singapura, mudah-mudahan berjalan lancar. Sebenarnya kekuatan penting saya mampu bertahan selama ini adalah anakku. Aku pingin mendampingi dia selama mungkin, buat melakukan itu saya musti sembuh dan harus,” kata Widyawati.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

  • Kartini Kini

Sumber: http://otomotif.kompas.com

Mobil Terbaru

Related Article Perkenalkan, “The Iron Lady” Widyawati Dari Toyota Indonesia

Sabtu 31 Oktober 2015 | Berita Otomotif

Di awal bulan ini, Toyota Motor Corporation mengungkapkan adanya isu kerusakan saklar power window pada sejumlah macam mobilnya. Hal tersebut diumumkan pada dunia dan terpaksa…

Minggu 17 Januari 2016 | Berita Otomotif

Jakarta, KompasOtomotif – Daihatsu Sirion pertama kali dipasarkan PT Astra Daihatsu Motor (ADM) pada April 2007. City car yg diimpor utuh (Completely Built Up/CBU) dari…

Jumat 26 Februari 2016 | Berita Otomotif

Setelah sukses menggelar rangkaian pameran di dua kota di Indonesia tahun lalu, PT Piaggio Indonesia (PID) kembali menghadirkan rangkaian pameran dengan tema Piaggio MotoPlex. MotoPlex,…