Isuzu Surabaya

Jl. Raya Waru Km. 15, Sidoarjo – Surabaya, Jawa Timur

Menu

Membelah Bukit Chiang Rai Dengan Ducati Multistrada 1200S

Minggu, Maret 13th 2016.

Chiang Rai, KompasOtomotif – Bersama puluhan jurnalis dari Asia Pasifik, KompasOtomotif dan sesuatu rekan media yang lain dari Tanah Air berkesempatan ikut menjajal kebolehan model terbaru, Ducati Multistrada 1200S. Pengetesan kali ini dikerjakan di Chiang Rai, Thailand, menyajikan rute perjalanan ratusan kilometer (km) bagi merasakan sensasi sepeda motor sport touring dari Italia ini.

Sebelum memulai perjalanan, briefing dari pihak penyelenggara menjelaskan, kalau menu rute yg ditempuh mencapai 320 km, mengitari Chiang Rai dengan kontur perbukitan. Tipikal jalan yg dilalui pun beragam, akan dari lurus via tol, campuran aspal dan tanah, hingga lumpur, cocok bagi dilalui motor yg memang diciptakan bagi segala medan tersebut.

Setelah sempat berkenalan dengan Multistrada 1200S, akhirnya rombongan memulai petualangan touring sehari ini.

Bruummm… Saya segera coba menjajal perlahan. Mengingat rute yg aku lintasi mulai menuju perkotaan, posisi berkendara dipilih “Urban”.

Fidel Ali/Kompas.com Sebagian rombongan touring Ducati Multistrada 1200s dari jurnalis se Asia Pasifik

Manuver

Rute pertama yg jadi menu pertama adalah menuju perkotaan. Tubuh motor yg cukup bongsor dengan lebar 945 mm diuji ketika kalian menemui perempatan jalan yg padat. Meski berbodi besar, melakukan manuver di sela-sela kendaraan tersebut masih terbilang nyaman, beruntung tak sepadat lalu-lintas di Jakarta.

Selanjutnya, rombongan masuk ke tol dengan karakter jalan aspal mulus dan lurus. Di Thailand, sepeda motor diperbolehkan masuk tol, berbeda dengan Indonesia. Rombongan pun melaju cepat, aku merasakan karakter mesin yg cukup responsif. Saat gas diulir, motor dengan bobot 235 kilogram ini terasa ringan melaju.

Embusan angin akibat laju sepeda motor yg aku tunggangi cukup bisa diredam dengan adanya windshield yg bisa diatur tegak ketinggiannya hingga 60 mm. Perjalanan pun terasa sangat nyaman karena posisi badan yg tegak, tak pegal.

Memasuki area perbukitan, giliran suspensi motor  diuji. Posisi riding mode kembali dipilih “Touring“, secara default suspensi Ducati Skyhook Suspension (DSS) ini terasa cukup halus. Sensasi saat melewati dua rintangan seperti jalan tak rata, hingga lubang pun mampu “dihajar” dengan tenang dengan karakter suspensi yg soft. Motor tetap bisa dibawa dengan anteng tanpa getaran yg menganggu.

Tikungan Tajam

Berjumpa dengan tikungan tajam, kembali performa mesin dan suspensi depan upside down berdiameter 48 mm dan belakang single sided swingarm khas Ducati pun diuji. Posisi rebah dicoba dan motor berbodi agak bongsor ini ternyata cukup nurut, gampang ditekuk! Ban Pirelli Scorpion Trail II dengan lebar 120/70 di depan dan belakang 190/55 yg menempel di pelek 17 inci membuat semakin percaya rebah di tikungan.

Meski bisa rebah, karakter motor ini sejatinya bukan buat melakukan manuver lebih ekstrem. Saya pun menyadarinya dan tak ingin melakukan rebah kurang dari 40 derajat di kecepatan 80-90 kpj.

Saat ini, perjalanan telah menempuh 140 kilometer dengan kecepatan rata-rata 120 kpj. Setelah sempat istirahat sekitar 30 menit, rombongan kembali melanjutkan sisa perjalanan.

Kali ini, rute yg dilalui semakin menantang, meskipun lalu-lintas terbilang sepi, namun dua kali ada “kejutan” yg menunggu di jalan. Saya pun dua kali menemui jalan berpasir di tikungan, beruntung teknologi Ducati Traction Control (DTC) dan cornering ABS berfungsi ideal, cengkraman ban pun bisa terjaga ketika melibasnya.

Kontur perbukitan dengan tikungan naik-turun, membuktikan tenaga dari motor dengan kekuatan 160 tk dan torsi 136 Nm ini memang dapat diandalkan.

Rombongan kemudian diberikan peringatan jalan berlumpur di depan, aku kemudian mengaktifkan mode “Enduro“. Jalan berlumpur dengan campuran tanah dan sedikit bebatuan itu pun aku lalui dengan tenang, meskipun aku sempat melakukan sedikit manuver karena jalan yg licin membuat ban belakang sempat selip dua kali ke kanan dan kiri.

Setelah sekitar 500 meter menerjang jalan off road dan berlumpur, aku dan rombongan akhirnya dipertemukan kembali dengan jalan beraspal.

Fidel Ali/Kompas.com Sebagian rombongan touring Ducati Multistrada 1200s dari jurnalis se Asia Pasifik ketika beristirahat.

Tembus 220 kpj

Kembali ke jalan, perbukitan di Chiang Rai akhirnya mengarahkan rombongan pada jalan dengan trek lurus cukup panjang, sekitar 2-3 km. Menu ini tentu tak disia-siakan, guna menguji performa mesin dari kelas superbike ini.

Mode berkendara segera dipindah ke posisi “Sport”, mesin segera terasa responsif, suspensi pun terasa agak keras. Saat memuntir grip gas lebih dalam, gaya inersia membuat tubuh aku ditarik ke belakang seraya motor melaju ke depan. Pergantian gigi cukup halus, meskipun masih diiringi dengan bunyi “kletek”.

Hanya dalam dua detik, kecepatan di speedometer memperlihatkan 220 kpj pada posisi gigi 5, dengan posisi badan yg membungkuk. Peringatan tiba dari Road Captain bahwa ada pasir di depan, sehingga kecepatan dikurangi.

Kelebihan lain, motor ini juga menyajikan fitur cruise control bagi menjaga kecepatan berkendara dalam kecepatan konstan. Ideal buat kegiatan touring semacam ini, guna menjaga ritme rombongan selama perjalanan, terutama di jalan lurus.

Kesimpulan

Setelah lebih dari lima jam di perjalanan, akhirnya rombongan datang di garis finis. Rasa puas dan lelah bercampur saat lokasi tujuan akhir berhasil dicapai. Sambil mengucap syukur, dua keterangan di panel indikator kembali disimak, ternyata konsumsi rata-rata BBM yg “diteguk” Multistrada 1200S selama perjalanaan, tercatat 7 kpl.

Jika melihat kapasitas mesin, tenaga, dan rute yg dilalui, hasil konsumsi ini relatif normal.

Menariknya lagi, Ducati juga telah mengembangkan aplikasi Multistrada Link yg mampu diunduh dari Apple Store. Lewat aplikasi ini, berbagai data penunjang tercatat dengan apik, akan dari topspeed, average speed, lean angle (sudut kemiringan), horse power selama berkendara, dan mampu dipublikasi ke media sosial.

Kesan yg diperoleh selama ratusan km perjalanan, selain canggih, sepeda motor ini milik kemampuan yg mumpuni. Meski tak ideal untuk sebagian besar biker, terkait postur tubuh atau rata-rata konsumsi bahan bakar, Multistrada tetap meneguhkan posisinya sebagai produk premium.

Motor ini membuat Anda ingin selalu berkendara dengan kenyamanan yg dijamin ketika menungganginya. Berada di atas jok, seakan tak menaiki sepeda motor, melainkan naik supercar convertible.

Pencarian jati diri hingga pelarian dari rutinitas dijamin langsung tercapai dengan tunggangan ini, setidaknya aku sempat lupa bahwa ketika itu sedang melakukan test ride. (Baca: “First Date” bersama Ducati Multistrada 1200s)

*Nantikan review fitur-fitur, performa, handling, hingga impresi dari Ducati Multistrada 1200S pada edisi selanjutnya.

Sumber: http://otomotif.kompas.com

Mobil Terbaru

Related Article Membelah Bukit Chiang Rai Dengan Ducati Multistrada 1200S

Jumat 25 Maret 2016 | Berita Otomotif

Jakarta, KompasOtomotif – National Modificator and Aftermarket Association (NMAA) sudah resmi berdiri di Indonesia pada Jumat (24/3/2016). Perkumpulan ini membuka  pintu lebar-lebar untuk seluruh pecinta…

Minggu 24 Januari 2016 | Berita Otomotif

Jakarta -Sesaat setelah meluncurkannya di Jakarta Convention Center, Toyota Indonesia, menggelar sesi tes drive All New Toyota Fortuner di pelataran sebuah pusat perbelanjaan mewah di kawasan…

Jumat 18 Maret 2016 | Berita Otomotif

Victoria -Kepolisian di Australia memilih SUV Mercedes-Benz sebagai mobil patrolinya. Kali ini, SUV yg dipilih adalah Mercedes-AMG GLE63 S Coupe. Seperti dilansir Carscoops, Jumat (18/3/2016), Mercedes-AMG…