Isuzu Surabaya

Jl. Raya Waru Km. 15, Sidoarjo – Surabaya, Jawa Timur

Menu

Mabua: Siapa Pun Yang Jadi Diler Harley Bakal Hadapi Tantangan Berat

Kamis, Februari 11th 2016.

Jakarta -Harley-Davidson Asia Pasifik tengah menggelar kontes pencarian diler baru Harley di Indonesia. Siapa pun nanti diler barunya, mulai dihadapkan pada tantangan berat.

“Sederet kebijakan  yg meningkatkan tarif  pajak  menjadikan harga jual motor tak kompetitif. Bahkan dari dua aturan perpajakan yg ada, kalau ditotal secara kumulatif mencapai 300 persen. Sepanjang ini (kebijakan) tak berubah, siapa pun (yang mulai menjadi diler) mulai menghadapi tantangan berat,” papar Komisaris PT Mabua yg juga CEO MRA Group, Soetikno Soedarjo, di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, di sejumlah negara pajak buat motor gede memang cukup besar dibanding motor-motor lainnya. Namun besaran pajak di negara-negara itu tidak sebesar di Indonesia.

Pernyataan serupa diungkapkan Presiden Direktur PT Mabua, Djonnie Rahmat. Dia menyebut, pajak yg tinggi menyebabkan harga motor Harley di Indonesia berlipat-lipat dan menjadikan penjualannya  merosot drastic begitu kebijakan itu diterapkan.

Menurutnya, ada empat aturan perpajakan yg selama ini memberatkan importir motor besar. Pertama, adalah Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 175/PMK.011/2013. Aturan ini mengerek tariff  PPh 22 Import dari 2,5 persen menjadi 7,5 persen.

Kedua, Peraturan Pemerintah  Nomor  22 Tahun 2014. Beleid anyar itu mengatur  tentang Kenaikan Pajak Penjualan Barang Mewah dari 75 persen menjadi 125 persen.

Ketiga, PMK Nomor  90/PMK.03/2015 tentang Penetapan Tarif PPh 22 Barang Mewah buat Motor Besar . Berdasar aturan ini, tarif PPh 22 untuk  motor bermesin 500 cc ke atas dinaikan dari 0 persen menjadi 5 persen.

Sedangkan yg keempat, PMK Nomor  132/PMK.010/2015 tentang Kenaikan Tarif Bea Masuk Motor Besar. Jika sebelumnya bertarif 30 persen  dinaikan menjadi 40 persen.

“Selama ini masih berlaku, siapa pun (yang menjadi diler) mulai berat,” kata dia.

Djonnie mengaku sebelumnya sudah melakukan dua upaya buat menyiasati agar beban pajak dapat dikurangi. Caranya, dengan merakit motor yang berasal Negeri Paman Sam itu di pabriknya yg terletak di Pulo Gadung, Jakarta Timur. Namun, upaya itu tidak juga membuahkan hasil. Soalnya, selain membutuhkan waktu yg relatif lebih lama, beban pajak juga masih tinggi.

Dia juga menegaskan, pihaknya juga tak pernah berkeinginan dan melakukan tindakan melanggar hukum dengan cara menyebutkan motor diimpor dalam bentuk terurai (CKD) dan dirakit di dalam negeri padahal sejatinya diimpor secara utuh (CBU).  Langkah seperti itu umumnya dikerjakan bagi mengelabui pajak.

“Tidak benar sama sekali. Tidak ada tindakan kita seperti itu. Bisa dibuktikan. Saya ini lulusan Lemhanas (Lembaga Ketahanan Nasional), sehingga tahu persis soal aturan-aturan hukum yg harus dipatuhi. Kami tak ingin melanggar apapun yg ditetapkan negara,” paparnya.

(arf/ddn)
Sumber: http://oto.detik.com

Mobil Terbaru

Related Article Mabua: Siapa Pun Yang Jadi Diler Harley Bakal Hadapi Tantangan Berat

Jumat 25 Maret 2016 | Berita Otomotif

Jakarta, KompasOtomotif – Kondisi ekonomi Indonesia yg mengalami perlambatan membuat pasar otomotif nasional turun 14 persen. Alhasil, keadaan ini berdampak pada hampir seluruh merek, termasuk…

Rabu 28 Oktober 2015 | Berita Otomotif

Tokyo, KompasOtomotif – Setelah sukses melahirkan generasi ketiga Outlander dengan teknologi hibrida-listrik plug in (PHEV), kini divisi riset dan pengembangan Mitsubishi Motors Corporation (MMC) menawarkan…

Minggu 20 Maret 2016 | Berita Otomotif

Jakarta -Motor skutik biasanya ditargetkan buat para wanita, namun Peugeot menargetkan 99 persen penggunanya adalah pria. Mereka rata-rata berusia 30 – 45 tahun, memiliki beragam latar…