Isuzu Surabaya

Jl. Raya Waru Km. 15, Sidoarjo – Surabaya, Jawa Timur

Menu

Ini Alasan Mabua Lepas Harley-Davidson

Rabu, Februari 10th 2016.

Jakarta -Sepanjang 2015 dulu PT Mabua Harley Davidson cuma menjual 470 unit motor atau anjlok 50 persen dibanding sebelumnya. Manajemen agen pemegang merek Harley di Indonesia itu menegaskan penurunan itu bukan faktor internal manajemen.

“Saya katakan 90 persen disebabkan oleh eksternal. Saya tahu, manajemen profesional,” tutur Chief Executive Officer MRA Group,induk Mabua, Soetikno Soedarjo di Jakarta, Rabu (10/2/2016).

Menurutnya, sepanjang 2014 penjualan masih sebanyak 1.000-an unit. Namun, setelah pemerintah menerbitkan beleid baru yg mengerek besaran tarif Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) hingga 125 persen, penjualan pun anjlok. Kondisi itu semakin berat karena berbagai tarif perpajakan juga memberatkan.

Pada ketika yg sama, lanjut Soetikno, keadaan perekonomian nasional juga menurun. Hal itu ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

“Sehingga motor yg tadinya berharga Rp 800 juta menjadi Rp 1,2 miliar. Yang tadinya Rp 500 juta menjadi Rp 700 juta,” paparnya.

Melonjaknya harga ini membuat calon pembeli berpaling. Terlebih, kata Soetikno, konsumen juga membandingkannya dengan harga harga mobil mewah.

“Jadi mereka lebih pilih mobil mewah, enggak kehujanan lagi,” ucapnya.

Sementara itu, Presiden Direktur Mabua, Djonie Rachmat, menambahkan, sejatinya Mabua cuma mematok margin keuntungan 5-7 persen dalam menjual motor Harley. Padahal, di luar negeri margin keuntungan mencapai 35 persen.

“Tapi kalian yg 5-7 persen saja sulit jualan,” paparnya.

Baik Djonnie maupun Soetikno menyanggah, keterpurukan Mabua disebabkan oleh tak solidnya manajemen.  Mereka juga membantah kabar yg menyebut Mabua menunggak pajak dan bermasalah karena mendatangkan unit CBU namun diklaim sebagai model yg dirakit di Indonesia.

“Tidak ada itu. Tidak benar, kalian tak ada persoalan dengan pajak,” tuturnya.

Menurutnya, pihaknya memang tak merakit lagi motor di pabriknya yg berada di Pulo Gadung, Jakarta Timur karena memang penjualan menurun. Sementara, pajak selalu meroket.

Akibatnya, efisiensi karyawan, yakni dengan tak memperpanjang kontrak karyawan dilakukan. Bahkan sejak awal 2015 telah dilakukan.

“Jadi memang penjualan menurun, karena faktor daya beli. Pajak yg tinggi membuat orang enggan membeli,” ucapnya.

(arf/ddn)
Sumber: http://oto.detik.com

Mobil Terbaru

Related Article Ini Alasan Mabua Lepas Harley-Davidson

Selasa 1 Desember 2015 | Berita Otomotif

Kanagawa, KompasOtomotif – Nissan sejak lahir dengan nama Datsun pada 1933 sudah melahirkan beragam produk hingga berubah nama menjadi Nissan. Awak redaksi mendapat kesempatan melihat…

Senin 4 April 2016 | Berita Otomotif

Bogor -Suzuki menempatkan logo Satria F150 dan tagline ‘Nyalakan Nyalimu’ di motor MotoGP sekaligus di wearpack pebalap Suzuki di MotoGP. Penempatan logo di lokasi yg strategis…

Senin 14 Maret 2016 | Berita Otomotif

London, KompasOtomotif – Sejumlah produsen otomotif dunia lagi berlomba-lomba menyukseskan revolusi teknologi otonomos (otomatisasi berkendara) pada produk andalan masing-masing. Ketika hal ini terjadi, mobil mulai…